Kategori
BeatBlog

Betapa kontrasnya hidup Suhendri. Pakaian yang ia kenakan banyak tambalan di sana-sini. Pria 72 tahun itu menjahit sendiri dengan tangan yang mulai berkeriput. Ia tinggal di sebuah kedai bambu. Di sanalah ia menjajakan kopi dan mi instan. Padahal, jika mau ia mampu tinggal di rumah mewah dan mengenakan pakain merek tersohor. Harap dicatat, Suhendri mempunyai hutan 10 ha yang berkali-kali ditawar pengusaha. Harganya minimal Rp10-miliar. Itu penawaran yang beberapa dialamatkan kepada Suhendri. Dengan dana halal, bukan hasil korupsi, ia dapat menikmati hari tuanya dengan nyaman.
“Hutan ini berkali-kali ditawar. Lima tahun lalu ada yang menawar Rp10-miliar, tapi saya menolak,” kata Suhendri sembari menyajikan kopi panas kepada saya. Saya menemui Hendri pada 3 tahun lalu di kedai bambu, persis di tepi hutan itu. Lokasi hutan itu memang strategis, persis di tepi jalan raya di Kota Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutaikertanegara, Kalimantan Timur. Di sekitar hutan itu berdiri hotel dan perkantoran. Suhendri menolak tawaran menggiurkan itu. Ia bagai batu karang di lautan yang tegar meski ombak menghantam berkali-kali.
Apa alasan dia menolak tawaran menggiurkan itu? “Saya ingin hutan ini lestari. Semua orang dapat menikmati udara bersih,” katanya. Hutan seluas 10 ha itu menghampar di Timbau, Bukitbiru, Tenggarong. Setidaknya 50 spesies pohon tumbuh di sana. Beberapa di antaranya adalah kapur Dryobalonofs lanceolata, sungkai Pronema canestens, dan tusam Pinus merkusii. Ratusan pohon menjulang menggapai langit. Sebagai paru-paru kota, bukan saja menyumbangkan udara bersih, hutan di ketinggian 30 meter di atas permukaan laut itu juga menjadi hunian bagi beragam burung dan kera ekor panjang.
Mereka datang sendiri ketika habitat rusak akibat perambahan hutan dan penebangan liar. Hutan itu benar-benar surga bagi kawanan burung dan primata. Manfaat lain, hutan yang dibangun oleh Suhendri itu juga sebagai sarana pendidikan dan riset. Banyak pegawai Dinas Kehutanan dan mahasiswa yang berpraktek serta meriset di sana. Harap mafhum, keragaman hutan itu relatif tinggi. Selain pohon besar, Suhendri juga menanam teh di bawah tegakan. Tanaman dari Asia Timur yang biasanya tumbuh di dataran tinggi itu adaptif di dataran menengah.
Padahal, 22 tahun silam, tak terbayangkan hutan lebat di tengah kota. Lahan yang sekarang menjadi hutan lebat berpagar kayu ulin itu dahulu cuma padang ilalang. Seorang kuli bangunan membeli lahan telantar itu. “Saat itu pekerjaan saya memang angkat-angkat batu,” katanya. Mula-mula hanya membeli 1,5 ha, tetapi kemudian meluas hingga 10 ha. Harganya Rp100.000 per ha. Sebagai perbandingan saat itu, 1979, harga beras Rp150; jagung, Rp5 per kg. Sementara pendapatannya sebagai buruh Rp5.000 per bulan.
Ketika itu Tenggarong harus dicapai dengan ketinting atau perahu dari Sungai Mahakam, Samarinda, selama 3 jam. Sekarang dengan mobil, Tenggarong dicapai setengah jam dari Samarinda. Kuli bangunan dan mantan karyawan sebuah perusahaan tambang itu adalah Suhendri. Hebatnya, ia tak langsung menanam pohon-pohon besar.
Semula ia menanam sayuran seperti pare, jagung, kedelai, kencur, jahe, dan kacang panjang. Ia tahu persis hukum pasar. Ketika pasokan berlebih harga bakal turun. Itulah sebabnya ia tak pernah menanam komoditas-komoditas itu dalam skala luas. “Saya juga menyesuaikan dengan tenaga kerja,” kata Suhendri. Jagung, misalnya, luasan penanaman hanya 10 borong. Satu borong berukuran 15 m x 15 m. Hasilnya ia jual di pasar tradisional.
Dari komoditas itulah ia bertahan hidup. Serasah bekas kedelai atau pare itu tak dibakar tetapi dibenamkan.”Untuk menjaga kelembapan dan menambah humus,” kata pria yang berpinsip jangan seperti katak dalam tempurung. Setelah itu kopi menjadi pilihan. Anggota famili Rubiaceae itu berproduksi pada umur 3—5 tahun sehingga pendapatannya bertambah. Setelah kopi tumbuh, Suhendri menanam cempedak, nangka, dan pete. Benih cempedak dan nangka berupa biji-biji yang berserakan di pasar Tenggarong. Ia tinggal mengambilnya, tanpa harus membayar.

Selain itu ayah 2 anak itu juga menanam gamal di area yang masih ditumbuhi alang-alang.
Sebutan gamal untuk Gmelina arborea merupakan akronim dari ganyang mati alang-alang. Tanaman lain sulit hidup di area alang-alang, tapi gamal mampu tumbuh. Ia tanaman paling top sebagai perintis. Anggota famili Fabaceae itu ia peroleh ketika menjadi buruh di PT Hasfarm yang mengelola perkebunan kakao. Perusahaan itu memanafaatkan gamal sebagai penaung Theobroma cacao. Ketika pulang, ia membawa sebatang gamal sebagai tongkat. Ia memotong-motongnya sebagai bibit.
Bungsu 4 bersaudara itu hafal betul pohon yang ia tanam, lokasi tumbuh, bahkan nama ilmiah dan riap tumbuh alias rata-rata pertumbuhan diameter pohon per tahun. “Arti manusia itu jika otaknya digunakan sebagai otak manusia, akal untuk berpikir, nafsu disalurkan pada hal yang benar,” katanya. Suhendri yang berpikiran maju itu bukan lulusan perguruan tinggi. “Pendidikan saya hanya SD, Sekolah Dapang” katanya terkekeh. Dalam bahasa Sunda, dapang berarti tengkurap. Itu untuk menggambarkan cara anak-anak belajar sembari tengkurap, kepalanya didongakkan, dan kaki ditekuk.
Suhendri memang hanya lulusan Sekolah Rakyat setingkat Sekolah Dasar. Ia dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat. Saat remaja ia merantau ke Penajam, Kalimantan Timur, sebagai karyawan perusahaan Hak Pengusahaan Hutan. Jerih payah sebagai karyawan itu ia kumpulkan untuk membeli lahan penuh ilalang. Kini hutan itu menjadi incaran para penanam modal. Sebetulnya Suhendri mau melepas hutan itu, asal peruntukannya tak berubah. Jika mau, ia hidup bergelimang harta.
Namun, ia bertahan dalam kesederhanaan. Lihatlah pakaian yang ia kenakan teramat bersahaja. Di sana-sini terdapat tambalan yang ia jahit sendiri dengan tangan. Pantas orang calon pembeli hutannya kaget begitu tahu pemilik area hijau itu adalah dirinya. Suhendri memikirkan banyak orang agar tetap mendapat udara bersih. Ia jarang memikirkan diri sendiri. Jalan kehidupan sepertiitu sungguh sepi. Jarang orang yang mau melewatinya. Namun, Suhendri tetap menelusuri jalan sepi itu. (Sardi Duryatmo)

“Ketersediaan energi ada batasnya,” kata peneliti bioenergi di Balai rekayasa Desain dan Sistem teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Agus Kismanto. Solusinya bahan bakar nabati yang ramah lingkungan. Read the rest of this entry »

“Indah sekali. Tuhan menciptakan 2 jarak, satu untuk bahan bakar, satu lagi untuk pelumas,” kata dosen Kimia di Institut Teknologi Bandung, Dr Robert Manurung. Kedua jarak itu itu adalah jarak pagar Jatropha curcas dan jarak Ricinus communis. Untuk menghasilkan minyak kastor dari 2 jenis jarak anggota famili Euphorbiaceae itu cukup dengan satu cara 6 langkah sebagai berikut. Read the rest of this entry »

Pemerintah menetapkan kebijakan bahwa mobil pribadi terlarang menggunakan bahan bakar minyak bersubsidi pada awal Maret 2011. Kebijakan itu antara lain dipengaruhi oleh naiknya harga minyak bumi di pasaran dunia yang mencapai US$100 per barel. Padahal, kebutuhan bahan bakar nasional mencapai 38.591-miliar yang menguras dana hingga Rp80-triliun per tahun. Oleh karena itu pemerintah mendorong penggunaan bahan bakar nabati seperti minyak jarak. Read the rest of this entry »

Ember berisi larutan detergen menjadi amunisi untuk mengusir kutu putih yang menyerang pepaya. Pekebun di Desa Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Nano Wijayatno, menyikat satu per satu tanaman hawai, california, dan bangkok di lahan 9 ha. Ia memang memandikan 9.800 Carica papaya selama 7 hari agar terbebas dari kutu putih asal Meksiko. Read the rest of this entry »

Menanam cabai di pot solusi atasi harga tinggi

Saat ini banyak orang mengeluh karena harga cabai rawit membubung, Rp100.000 per kg. Namun, Suci Pujisuryani tenang-tenang saja. Meski penggemar makanan pedas, ia hampir tak pernah membeli cabai. Setiap kali memerlukan, perempuan 45 tahun tinggal petik. Di halaman rumahnya seluas 2 kali meja pingpong, ia menanam 7 cabai rawit di pot plastik. Dari tanaman yang kini berumur 4 bulan itu, Suci rutin memetik 15—25 cabai setiap hari. Jumlah itu memadai untuk memenuhi kebutuhan. Read the rest of this entry »

Sapi Peranakan Ongole

Sapi Peranakan Ongole. Seekor sapi menghasilkan 20 kg kotoran sehari sebagai bahan baku biogas

Menggunakan biogas, ibarat pepatah lawas: sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau pun termapaui. Sekali memanfaatkan biogas, beragam manfaat pun terpetik sekaligus, aman, hemat, lingkungan bersih,  dan mencegah pemanasan global. Read the rest of this entry »